Pages - Menu

Mengapa Anak Bikin Ulah di Sekolah?

Artikel Pendidikan

Menghukum anak nakal tidak terbukti efektif. Hukuman membuat anak menjadi penurut untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya ia akan memberontak”

Mengapa anak selalu bikin ulah di sekolah?

             Ada alasan jelas mengapa anak-anak di sekolah lebih susah diatur, bersikap tidak hormat, agresif, dan suka kekerasan. Ini sebenarnya bukan misteri. Kalau anak-anak dirangsang terlalu banyak agresif dan ancaman hukuman di rumah, tercipta sifat hiperaktif pada anak laki-laki atau apa yang sekarang disebut sebagai gangguan kurang mendapat perhatian.

             Berada di tengah lingkungan yang tak kenal maaf membuat anak bersikap agresif. Mereka akan efektif membela diri dengan mencari pembenaran atas kesalahan mereka atau menyalahkan orang lain. Contohnya, seorang siswa SMA mendapat nilai rapornya jeblok lantaran malas belajar. Ia akan menyalahkan guru yang dinilainya tidak bisa mengajar.



Apa yang mesti dilakukan?

1. Komunikasi. Gunakan pesan-pesan melalui berbagai sarana. Misalnya, dengan menyelipkan pesan di kaos kaki, kotak pensil, atau tas punggung. Tentukan saat dan cara agar anak dan remaja dapat terus berhubungan dengan orang tua. Jadilah orang yang berpesan dalam kehidupan remaja.



2. Jangan menghukum anak. Hukuman apa pun yang masuk akhirnya akan keluar juga, entah terhadap orang lain atau terhadap diri sendiri. Apabila seorang anak, laki-laki atau perempuan, dihukum karena melakukan suatu kesalahan, akibatnya anak tersebut tidak dapat memaafkan dirinya dan orang lain atas kesalahan itu.
3.  Ciptakan kondisi yang nyaman di rumah.

Kalau seorang anak tidak takut dihukum dan orang tua memaafkan tindakan sang anak, maka ia mau lebih mendengar dan bersikap kooperatif. Ia tidak merasa perlu menyalahkan orang lain atau mencari pembenaran bagi tindakannya.





4.  Ciptakan suasana keterbukaan. Remaja yang merasa dikritik tidak akan mau berdiskusi secara jujur dan terbuka. Maka, orang tua jangan tersinggung jika remaja berbohong. Ini bukan hal luar biasa, dan mungkin jalan menuju kemandirian. Jika orang tua bertindak berlebihan terhadap ketidakjujuran remaja, mereka cenderung tidak mau bicara kepada orang tua pada waktu mendatang.



5.  Berikan pujian. Jangan hanya memuji pada saat sang anak mencapai prestasi saja, misalnya mendapat juara umum di sekolah, tetapi juga pada saat anak-anak melakukan hal-hal baik setiap hari. Contoh, seorang anak laki-laki membawa piring kotornya ke bak cuci dan tidak meninggalkannya begitu saja di meja. Pujilah dia, beritahu dia bahwa kita memperhatikan usahanya itu.



     Mari kita bersikap realistis. Mem-pengaruhi remaja itu tidak mudah, terutama jika kita belum mempunyai hubungan baik dengan mereka. Remaja perlu lebih banyak menjadi kontributor daripada konsumen, dan lebih memiliki daripada membeli.



                                                Oleh “$”,  XII A1
                                                                (dari berbagai sumber)