Pages - Menu

Pelajaran Cinta

Cerpen
Oleh  Juven’s*

 
Pikiranku menerawang. Bayangan Tiwi melintas dengan jelas.
Oh God!, kenapa aku mesti menyukai gadis itu?

Tiwi, Miss Populer, anak orang kaya, jago menari, dan super cantik, mana mungkin mau melirik cowok biasa seperti aku. Apalagi aku tahu banget kalau hari-hari Tiwi nggak pernah sepi dari cowok-cowok ganteng yang super keren, yang tahu caranya membahagiakan cewek, seperti Ferdi, Yoga, Ageng, dan sederet nama cowok ganteng lain di sekolah ini, yang bisa kusebut. Sementara aku? Ah, ... aku berani taruhan, mustahil Tiwi melirik aku apalagi memikirkan aku. Benar-benar pikiran gila!!
       Tanganku mulai memainkan pena. Hanya di dalam buku ini aku berani meng-ungkapkan perasaan tersembunyiku ter-hadap Tiwi. Bahkan untuk menceritakannya pada sahabatku, Muhtar, Jarwanto, aku tak punya nyali. Aku terlalu malu dan takut nanti akan ditertawakan.
       Hari ini lagi-lagi aku mengamati Tiwi dari kejauhan.... Meski begitu, aku sudah senang. Mungkin ini memang yang terbaik, yaitu menjadi pengagum rahasianya, mengaguminya diam-diam, menyukainya dengan sembunyi-sembunyi.
       Aku lemparkan tubuhku ke atas kasur. Kutatap langit-langit kamar. Di sana aku menemukan wajah bening Tiwi sedang tersenyum manis ke arahku. Kupejamkan mata. Tapi ughh!, mengapa begitu sulit melenyapkan bayangan gadis itu dari kepalaku.

       “Hei Joe!” Sebuah suara memaksaku untuk menoleh ke belakang.
       “Tiwi?! A..a...pa... itu benar-benar Tiwi!”
Aku tak mempercayai pandangan mataku. Dari mana cewek itu tahu namaku? Dan angin apa yang membawa gadis itu menemuiku? Buatku ini benar-benar surprise! Ya ampun, .... kayaknya tadi malam aku nggak bermimpi apa-apa.
       “Kamu benar-benar Joe, kan?” tanya Tiwi dengan senyum mempesona.
       Kerongkonganku seolah tercekat sehingga aku tak bisa bersuara. Aku hanya bisa mengangguk kikuk sebagai jawaban. Tiba-tiba Tiwi mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri dengan sikap yang .... Oh God, terlihat sangat simpatik di depanku. Apa ada cewek yang begitu sempurna seperti cewek di depanku ini? Aku membalas uluran tangannya dengan pelan sambil menyebutkan namaku.
       “Joe, .... It’s OK kan kalau aku panggil kamu begitu?” tanya Tiwi meminta izin. 
       Betapa bangganya aku ketika berpasang-pasang mata di sekitarku menatapku.
       “Kamu salah satu penulis di majalah sekolah kita kan?” tanya Tiwi begitu aku duduk dengannya di kursi yang cukup strategis dan nyaman untuk ngobrol.
       “Gini, aku pengen minta tolong, boleh?”
       “Boleh”, jawabku seperti orang dihipnotis.    “Aku kan lagi ikutan kampanye pemilihan OSIS di sekolah. Nah, boleh nggak aku minta tolong kamu untuk muatin profilku? Ya, supaya penghuni-penghuni di sekolah ini lebih kenal dekat sama aku. Bisa?”, tanya Tiwi dengan muka harap-harap cemas.  Ampuunn .... wajahnya benar-benar cute.
       “Bisa ... bisa....! Nanti aku bilang ke temen-temen di kru majalah”, balasku.
       Aku senang banget. Ini kesempatan emas! Kapan lagi coba, aku punya kesempatan untuk bisa kenal dan dekat dengan  bintang sekolah?